Showing posts with label struktur tulisan. Show all posts
Showing posts with label struktur tulisan. Show all posts

Wednesday, April 29, 2020

STRUKTUR TULISAN KRITIK SASTRA


STRUKTUR TULISAN KRITIK SASTRA
Oleh: Dr. Asep Nurjamin

Tulisan kritik sastra termasuk karangan argumentasi. Di dalamnya, kritikus mengemukakan kesan, pendapat, dan penilaian mengenai kualitas karya sastra yang dikritiknya. Kritikus harus dapat memberikan argumentasi yang mudah dipahami pembaca. Mengapa karya itu dianggap karya sastra yang bermutu. Dari segi apanya karya sastra itu bermutu. Bagaimana cara dia menilainya. Semuanya harus logis sehingga argumentasinya layak  diterima pembaca.

Tentu saja, pada awalnya kritikus tertarik untuk mengkritik karena terbawa perasaannya. Mungkin karena terpukau karena keindahan sebuah puisi. Mungkin karena terkesan oleh cara penulis bercerita. Mungkin karena terpesona oleh keindahan komposisi kalimatnya. Ini semua urusan perasaan. Harus dimaklumi karena keindahan sastra itu adalah keindahan dalam perasaan, bukan keindahan dalam pikiran.

Walaupun berawal dari kesan perasaan, kritik sastra yang dibuatnya tidak boleh semata-mata bersandar pada perasaanya sendiri. Kritikus harus secara ilmiah membuktikan keindahan yang dimiliki karya yang dikritiknya. Kita ketahui bahwa perasaan sendiri itu sifatnya subjektif. Di dalam kritiknya, penulis harus menyembunyikan subjektivitasnya. Yang ditonjolkannya adalah bukti-bukti yang objektif dan logis.

Sebagai bagian dari karya ilmiah, kritik sastra harus memenuhi prinsip-prinsip penulisan karya ilmiah. Isi kritik sastra harus logis dan ditulis menggunakan bahasa ragam ilmiah. Diksi dalam karya ilmiah harus menggunakan kosakata ragam baku.

Urutan Penyajian
Karya kritik sastra kita dapat disajikan dalam urutan: (1) deskripsi, (2) analisis, (3) interpretasi, dan (4) penilaian sebagaimana disarankan Mahayana (2015: xlii). Akan tetapi, dalam praktiknya, sebagian karya kritik sastra hanya memuat tiga perkara, yaitu deskripsi, analisis dan interpretasi, serta penilaian. Dalam hal ini, analisis dan penafsiran ditempatkan pada satu nomor.

Di samping model kritik yang disarankan Mahayana tersebut di atas kita juga dapat melihat banyak kritikus yang menggunakan pola: (1) landasan teori, (2) deskripsi, (3) analisis dan interpretasi, serta (4) penilaian. Model yang terakhir inilah yang sebenarnya lebih banyak kita temukan dalam karya-karya kritik sastra, termasuk beberapa kritik karya Mahayana sendiri. Oleh karena itu, untuk selanjutnya akan kita bahas penulisan kritik sastra berdasarkan model yang terakhir ini.

(1) Landasan teori. Seorang kritikus haruslah orang yang sudah dianggap memiliki otoritas dalam bidang sastra. Oleh karena itu, kritikus harus membuktikan dirinya bahwa dia memiliki minat, pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan keterampilan yang diakui oleh masyarakat sastra, terlebih oleh penulis karya yang dikritiknya. Penting kiranya bagi seorang kritikus untuk membangun citra diri sebagai seorang kritikus. Dengan demikian, menjadi penting bagi seorang kritikus untuk memperlihatkan dan menunjukkan penguasaanya terhadap sastra dan ilmu sastra.

Menuliskan teori yang menjadi dasar dan rujukan dari kegiatan kritik sastra yang dilakukannya dapat dianggap sebagai upaya memperlihatkan keahliannya. Walaupun demikian,  kritikus harus memilih teori yang proporsional, yang sesuai dengan sifat dan hakikat karya yang akan dikritiknya. Tidak perlu berlebihan. Tuliskan teori atau pendapat ahli yang sesuai dan diperlukan. Jangan juga menimbulkan kesan sebagai orang yang show off.  

Hal lain yang perlu diingat dalam menuliskan landasan teori adalah penulis harus berusaha sedapat mungkin menggunakan rumusan kalimat sendiri. Jika tidak dianggap sangat perlu, pilihlah  teknik kutipan tidak langsung dengan teknik sitasi yang tidak tampak rumit dan berbelit.

(2) Deskripsi. Bagian ini berisi gambaran mengenai karya yang dikritik yang biasanya dilengkapi dengan profil pengarangnya. Identitas karya yang dikritik harus dideskripsikan secara lengkap, mulai dari judul, jenis karya sastra, nama penulis, tahun publikasi, karya keberapa, termasuk di dalamnya media yang dijadikan wahana publikasi karya tersebut.

Penting untuk dijelaskan, bagian mana dari karya tersebut yang akan dibicarakan. Apakah karya tersebut akan dibahas secara utuh bulat atau hanya akan dibicarakan bagian tertentu saja. Sepadan dengan pokok pembicaraan, sebutkan teori atau pendekatan kritik yang akan kita gunakan serta alasan kita menggunakannya. Tidak harus detil. Cukup garis besarnya saja.

Identitas pengarang termasuk bagian yang tidak terpisahkan dari penulisnya. Hipotesis tentang pentingnya memahami profil pengarang untuk dapat memahami secara utuh sebuah karya tampaknya tidak dapat diabaikan. Karya sastra tak lain dari buah pikiran dan renungan penulisnya. Perlu pula dituliskan, bagaimana kedudukan karya tersebut dalam rangkaian karya seorang pengarang. Jika perlu, tuliskan juga kesan dan pandangan penulisnya sendiri terhadap karya tersebut. Hal ini harus diperhitungkan kritikus untuk memahami karya yang dikritik. 

(3) Analisis dan interpretasi. Lakukan analisis dan interpretasi yang meyakinkan pembaca. Mulailah dengan menuliskan hal yang paling menonjol yang dimiliki karya yang dkritik. Kemukakan bagaimana faktanya, apa kelebihan, apa kekurangannya, apa perbedaan dengan karya yang pernah ada, baik karya pengarang itu sendiri maupun dengan karya pengarang lainnya. Apa makna kelebihan dan kekurangan tersebut, baik dalam konstelasi karya yang dihasilkan oleh pengarangnya maupun dibandingkan dengan karya pengarang lain, bahkan dalam konstelasi kepengarangan secara regional atau nasional.   

(4) Penilaian. Penilaian adalah kesimpulan dari seluruh pembahasan kita. Tunjukanlah benang merah antarbagian sehingga pembaca dengan mudah dapat memahami alasan kita sehingga sampai pada penilaian. Sampaikanlah secara eksplisit kesimpulan kita. Misalnya, dengan menyebut bahwa karya yang kita kritik itu berdasarkan alasan-alasan yang telah dikemukakan termasuk karya yang bermutu atau sebaliknya.

Hindarilah memberi penilaian tanpa disertai alasan yang jelas dan mudah dipahami. Selain itu, penilaian yang kita buat itu harus benar-benar berdasarkan fakta yang benar-benar ada pada karya yang dikritik.  

Penutup
Kritik sastra dapat dilakukan terhadap satu karya sastra, satu buku, atau keseluruhan karya seorang pengarang. Pada dasarnya, struktur penyajian mengikuti pola sebagaimana telah dibicarakan di atas. Yang berbeda biasanya pada bagain pertama yaitu bagian landasan teori. Para kritikus yang sudah “punya nama” biasanya tidak secara eksplisit dan formal menyertakan bagian landasan teori. Barangkali karena keyakinan bahwa dirinya telah cukup dikenal kepakarannya dalam bidang sastra sehingga sudah layak untuk mengkritik atau memberi penilaian terhadap karya sastra. 
Perlu disampaikan di sini bahwa struktur tulisan kritik sastra yang dibicarakan di sini hanyalah sebuah model. Dalam kenyataannya, masih ada model struktur yang lain.

Rujukan
Danardana, Agus Sri. 2013. Pelangi Sastra: Ulasan dan Model-Model Apresiasi. Palagan
Press: Pekanbaru.
Mahayana, Maman S. 2015. Kitab Kritik Sastra. Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta.

SALAH TULIS

Hermawan Aksan wartawan Tribun Jabar KITA biasa menyebutnya typo, dari istilah typographical error. Maknanya, kesalahan ketik atau salah ket...