Showing posts with label sopan santun mendengarkan. Show all posts
Showing posts with label sopan santun mendengarkan. Show all posts

Friday, June 5, 2020

PEMBELAJARAN MENDENGARKAN

Dr. Asep Nurjamin

Bagaimana cara mengajarkan keterampilan mendengarkan? Banyak orang menguira, mendengarkan itu tidak perlu dilatih dan diajarkan. Jelas, ini keliru. Kalau sekadar mendengar, semua orang byang terlahir dengan alat dengar yang lengkap pasti dapat mendengar semua suara. Akan tetapi, untuk sampai pada kemampuan memahami isi pembicaraan diperlukan pelatihan dan pembelajaran yang benar.

Pembelajaran mendengarkan ini harus diajarkan pada semua jenjang kelas, mulai dari kelas satu sampai kelas enam. Yang berbeda hanyalah intensitasnya sesuai dengan perkembangan fisik dan mentalnya.

Ada tiga hal penting yang harus ditekankan dalam pembelajaran mendengarkan, yaitu (1) memusatkan perhatian pada suara yang seharusnya didengar, (2) memahami isi pembicaraan, serta (3) bersikap sopan santun dan menghargai pembicara.

Memusatkan perhatian pada suara yang seharusnya didengar. Kemampuan mendengar dimulai dengan memilih bahan yang harus didengar. Tidak semua suara  harus didengar. Tidak semua orang yang berbicara mesti diperhatikan. Para siswa harus dilatih memilih  pembicaraan yang penting dan diperlukan.

Untuk melatih kemampuan memusatkan perhatian pada suara yang seharusnya didengar dapat dilakukan dengan cara menyampaikan pesan secara berbisik. Guru berbicara dari jarak beberapa meter dari siswa, kemudian mereka diminta mengulang kalimat yang diucapkan guru. Bisa juga divariasikan dengan meminta siswa untuk berbisik dan ditebak siswa lain.

Intinya, siswa dilatih memusatkan perhatian kepada pembicara. Dia tidak terlihat membagi perhatian dengan hal lain. Misalnya, dengan memainkan jari, memainkan HP, atau malah asyik memandang ke tempat lain yang tidak ada hubungannya dengan isi pembicaraan.

Memahami isi pembicaraan. Untuk melatih memahami isi pembicaraan, mintalah siswa mengulang kalimat yang diucapkan pembicara. Pada pelatihan selanjutnya, mintalah siswa menyampaikan isi pembicaraan dengan kalimat yang berbeda, dengan kalimat buatannya sendiri. Pada pelatihan selanjutnya, mintalah siswa membuat kesimpulan dari sebuah pembicaran dengan menggunakan kalimat sendiri. Pelatihannya dilakukan terus-menerus setiap hari pada setiap pembelajaran.

Ada dua kemungkinan makna isi pembicaraan yang harus dipahami pendengar. Pertama, makna yang tersurat atau eksplisit. Kedua, makna yang tersirat atau implisit. Untuk melatihnya, guru bertanya kepada siswa, “Apa yang dibicarakan?” pertanyaan ini tidak mudah dijawab pada tahap awalnya. Akan tetapi, setelah sering menjawab pertanyaan ini, insya Allah siswa akan dapat menjawabnya dengan benar. Oleh karena itu, untuk melatihnya diperlukan kesabaran dari guru. Buanglah pikiran, ingin mencapai hasil secepatnya karena belajar itu memerlukan waktu dan usaha yang terus-menerus.   

Bersikap sopan santun dan menghargai pembicara. Para siswa harus dilatih bersikap pada saat mendengarkan orang yang sedang berbicara. Hal ini dilakukan dengan melatih pandangan mata, posisi badan, anggota badan.

Pusatkan pandangan kepada pembicara dengan lembut dan tidak menyerang. Variasikan dengan memandang ke tempat lain tetapi jangan tunjukkan sikap bosan dan berharap pembicara segera menyelesaikan pembicaraannya. Apa yang ada dalam perasaan kita akan segera terlihat pada mata kita. Oleh karena itu, jagalah perasaan jangan sampai membuat pembicara tersinggung.

Sikap gelisah dan tidak memperhatikan pembicara adalah sikap yang umumnya dimiliki siswa kita. Guru harus sabar mengarahkan dan melatihnya. Pelatihannya harus dilakukan secara bertahap, setiap hari, selama siswa berada di dalam kelas dalam pembelajaran. Lihatlah kemajuan dan perkembangannya setiap hari!

Modal terbesar untuk bersikap sopan dan menghargai pembicara adalah “kesabaran.” Orang yang tidak sabar biasanya sering memperlihatkan sikap yang kurang positif terhadap pembicara. Oleh karena itu, latihlah mereka untuk sabar dan setia!  Pelatihan seperti ini tidak bisa dilakukan hanya satu atau dua kali melainkan terus-menerus. Untuk itu, diperlukan kesabaran dan keseriusan dari gurunya.

Siswa yang belum berhasil menjadi pendengar yang “bersikap sopan santun dan menghargai pembicara,” harus terus diarahkan. Selain dalam pembelajaran di dalam kelas, guru juga dapat melatihnya pada kesempatan lain, misalnya pada saat istirahat atau kesempatan lain di luar jam pelajaran.    

@salam dari Asep Nurjamin di Bumi Guntur Melati

SALAH TULIS

Hermawan Aksan wartawan Tribun Jabar KITA biasa menyebutnya typo, dari istilah typographical error. Maknanya, kesalahan ketik atau salah ket...