Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Saturday, April 18, 2020

Tiga Jenis Karya Sastra: Prosa, Puisi, dan Drama


TIGA JENIS KARYA SASTRA: PROSA, PUISI, DAN DRAMA
Oleh: Dr. Asep Nurjamin

Dari segi bentuknya karya sastra dapat dibedakan menjadi tiga, karya sastra berbentuk prosa, karya sastra berbentuk puisi, serta karya sastra yang berbentuk drama. Ketiga bentuk karya sastra tersebut memiliki ciri-ciri yang relatif mudah untuk dibedakan. Salah satu perbedaan yang sangat mencolok dan mudah diidentifikasi adalah ciri fisik penulisannya. Prosa biasanya ditulis dalam bentuk paragraf-paragraf, puisi ditulis dalam bentuk larik dan bait, sedangkan drama ditulis dalam bentuk dialog.
            Karya sastra berbentuk prosa. Sastra jenis ini berisi cerita. Di dalamnya pengarang menceritakan satu atau beberapa peristiwa yang dialami seorang tokoh. Tokoh dan peristiwa diceritakan itu merupakan tokoh khayalan dan peristiwa yang diceritakannya pun merupakan peristiwa khayalan. Banyak atau sedikitnya peristiwa yang diceritakan akan mempengaruhi panjang pendeknya cerita. Semakin banyak peristiwa yang diceritakan akan semakin panjang cerita. Sebaliknya, semakin sedikit peristiwa yang diceritakan akan semakin pendek cerita. Dengan demikian, panjang pendeknya cerita dipengaruhi oleh sedikit atau banyaknya peristiwa yang dikisahkan.
            Sedikitnya peristiwa yang dikisahkan akan berpengaruh pula terhadap jumlah tokoh yang diceritakan. Dalam hal ini berlaku pula pula hukum, semakin banyak tokoh yang diceritakan akan semakin panjang cerita. Sebaliknya, semakin sedikit tokoh yang diceritakan akan semakin pendek cerita. Walaupun demikian, dalam cerita yang panjang maupun yang pendek masih akan dapat diidentifikasi tokoh yang paling banyak diceritakan. Tokoh inilah yang sering disebut sebagai tokoh utama cerita.
            Berdasarkan jumlah peristiwa dan jumlah tokohnya tersebut kita mengenal cerita pendek, cerita sedang, dan cerita panjang. Istilah “cerita sedang”  lebih sering dikenal dengan sebutan “novelet”, sedangkan istilah “cerita panjang” lebih dikenal dengan sebutan “novel”. Dari pembahasan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa perbedaan di antara ketiga jenis prosa tersebut, yaitu cerpen, novelet, dan novel adalah dalam panjang pendek cerita. Ingatlah bahwa cerita itu disampaikan pengarang melalui kata-kata. Semakin banyak peristiwa yang diceritakan, semakin banyak tokoh yang diceritakan maka akan semakin banyak kata-kata yang ditulis pengarangnya.
            Karya sastra berbentuk puisi. Puisi adalah karangan yang biasanya ditulis dalam bentuk bait. Di dalamnya penyair mengungkapkan perasaannya. Banyak penyair yang menuliskan ungkapan perasaannya dengan bahasa yang tidak mudah dipahami pembacanya. Masalah ini muncul karena penyairnya menggunakan kalimat yang tidak lazim, berbeda dengan dengan kalimat yang dipergunakan dalam prosa atau dalam komunikasi biasa dalam kehidupan sehari-hari. Banyak susunan kata dalam puisi yang dengan sengaja disamarkan maksudnya oleh penyairnya. Lebih dari itu, banyak penyair yang dengan sengaja menyembunyikan maksudnya.
            Melalui puisi, penyair berharap agar dalam diri pembacanya muncul rasa keindahan yang ditemukannya sendiri. Isi puisi hanya mengarahkan pembacanya munculnya bayangan tertentu. Penyair ingin pembacanya merasakan keindahan seperti yang dia bayangkan. Akan tetapi, penyair menggunakan susuna kata yang cenderung tidak biasa. Untuk memahaminya, pembaca perlu memikirkan, membayangkan, dan merasakannya. Hal ini terjadi karena penyair menggunakan susunan kata yang menimbulkan imajinasi dan perasaan tertentu pada diri pembacanya.
            Kata-kata yang sering kita pergunakan dalam komunikasi sehari-hari, dalam puisi digabungkan dengan kata lain dalam susunan yang tidak biasa sehingga menimbulkan makna baru yang unik. Dalam puisi, penyair banyak sekali menggunakan gaya bahasa perbandingan atau metafor. Alam dibandingkan dengan manusia atau diperlakukan sebagai manusia. Demikian juga sebaliknya. Manusia sering diibaratkan memiliki sifat alam. Dengan demikian, pembaca akan menemukan puisi yang mudah dipahami, puisi yang sulit dipahami, hingga puisi yang tidak dapat dipahami.
            Bacalah puisi di bawah ini!

Kabut Turun Di Hutan Kamojang
Karya: Asep Nurjamin

Kabut turun perlahan di pelataran hutan Kamojang,
membelit pinggang pohonan,
melepas pakaian kehangatan,
menawarkan dingin yang sepi bersama angin yang terus merajuk minta bertemu.

Kabut yang jernih dan ramah datang diam-diam,
sebagian mengendap melahirkan titik air yang jatuh perlahan di ujung daun yang runduk, 
pada cemara yang tegak,
kabut berbisik sepoi berdesis lirih,
Serupa alam yang berbicara pada dirinya sendiri.

Tak ada kata-kata,
sebaris sajak pun tidak,
sebab semuanya hanya bergejolak pada rongga dada,
isyarat dari jutaan makna yang tak menemukan kata yang tepat.

Adalah kabut tipis yang tersisa pada penghujung senja,
adalah dingin dan lengang yang telah mengikat kuat perasaan kita berdua,
kerinduan adalah lumut menahun di tubuh pohon,
ikhlas pada jerit serangga senja,
sabar dan setia pada kebisuan abadi yang lekat pada pokok kayu di hutan Kamojang

Ke lembah hingga ke relung hati,
berjalan perlahan,
serupa kayu meminta api.                 

            Karya sastra berbentuk drama. Drama adalah karangan berbentuk cerita. Akan tetapi ada perbedaan cara bercerita dengan prosa. Dalam drama, pengarang tidak bercerita secara naratif. Dalam drama, cerita akan ditemukan pembaca dari dialog atau percakapan di antara tokoh-tokohnya. Kalau dalam prosa, pengarang akan memulai cerita dengan kalimat, “Pada suatu hari dan seterusnya…”, dalam drama tidak akan ditemukan narasi seperti itu. Dalam drama akan muncul dua orang atu lebih lalu berdialog.
            Ada dua bentuk drama yang kita kenal, yaitu drama dalam bentuk naskah dan drama dalam bentuk pertunjukan. Walaupun demikian, drama pertunjukan juga sebenarnya berasal dari naskah drama yang dipentaskan. Dalam hal ini kita bisa membedakan drama dari prosa. Naskah drama itu dibuat untuk dipertunjukkan sedangkan sedangkan prosa itu dibuat untuk dibaca. Jadi, drama dinikmati dalam bentuk tontonan bukan bacaan.
       Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi, drama mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di samping drama konvensional dalam pertunjukan panggung, kini drama dipertunjukkan dalam bentuk film dan sinetron. Tentu dengan nama yang sangat beragam. Kita kenal drama televisi, film layar perak, dan sejumlah nama lain yang pada hakikatnya masih tetap drama.
      Tokoh dalam drama pun mengalami perkembangan yang sangat pesat pula. Film-film dengan tokoh animasi membuat perubahan yang sangat signifikan. Bukan hanya manusia yang dijadikan tokoh cerita. Kita temukan ada film dengan tokoh cartoon, binatang, sampai pada benda-benda. Hal ini dapat dilakukan karena drama telah memanfaatkan keunggulan teknologi komunikasi. Tentu saja hal ini sangat berpengaruh terhadap semakin surutnya minat terhadap drama konvensional. Diciptakannya televisi telah mengubah gaya hidup orang dalam mencari hiburan.     

Guntur Melati 30 Oktober 2018
@salam  dari Asep Nurjamin di Bumi Guntur Melati

Thursday, December 26, 2019

SASTRA ADALAH FIKSI


SASTRA ADALAH FIKSI
Oleh: Asep Nurjamin

Peristiwa dalam sastra adalah peristiwa fiksi, imajinatif. Oleh karena itu, semuanya harus kita anggap sebagai peristiwa yang memiliki tingkat kesesuaian yang rendah dengan fakta yang sesungguhnya. Apa pun  yang ada dalam sastra harus dipandang sebagai rekaan. Peristiwa nyata yang sudah ditampilkan dalam bentuk sastra jangan dianggap sebagai sebuah peristiwa yang secara seratus persen persis sama dengan peristiwa yang sebenarnya.
            Dari paragraf di atas kita ketahui bahwa, ide dasar dari sastra itu bisa fakta bisa juga khayalan.  Akan tetapi, jika kita menuliskan sebuah peristiwa secara apa adanya, faktual, tepat sesuai fakta, tidak ada yang ditambah atau dikurangi itu berarti kita tidak sedang menulis karya sastra. Karya sastra harus memenuhi syarat sebagai karya rekaan. Semua atau sebagian fakta yang ada, untuk jadi karya sastra harus direka, biasanya dibuat jadi lebih indah, lebih dramatik, lebih hidup, lebih menarik, lebih menghibur.
Hal ini dilakukan  untuk memenuhi tujuan estetika sastra karena sastra dibuat untuk tujuan estetik bukan untuk tujuan informatif. Apakah sastra tidak berisi informasi? Bukan begitu. Karya sastra juga dapat menjadi sumber informasi. Akan tetapi, informasi dalam karya sastra bukan informasi yang akurat, tepat, dan objektif karena ia merupakan hasil pandangan atau kesan subjektif penulisnya.    
            Walaupun demikian, banyak orang yang beranggapan bahwa karya sastra itu mencerminkan kebudayaan suatu bangsa atau suku bangsa. Pernyataan ini tidaklah benar. Jika kita ingin mengetahui kebudayaan suatu bangsa atau suku bangsa bacalah buku antropologi karena semua yang ada dalam sastra itu walaupun pada asalnya merupakan fakta itu tetapi itu tak lebih dari impresi sastrawannya. Oleh karena itu, fakta dalam karya sastra lebih merupakan kesan pribadi sastrawan atau bahkan pandangan subjektif penulisnya. Apakah itu merupakan fakta yang keobjektifannya dapat dipertanggungjawabkan? Jawabannya, belum tentu fakta itu benar-benar faktual karena fakta dalam karya sastra tidak dipandang dengan menggunakan logika dan penalaran yang secara ketat harus dijaga.
Fakta dalam sastra adalah fakta yang lebih banyak dipandang dengan menggunakan perasaan. Benar, di dalam sastra pun ada logika. Akan tetapi, logika sastra adalah logika yang berbeda dengan yang berlaku dalam kehidupan biasa. Dalam sastra, seorang jagoan bisa berkelahi ratusan kali dalam sehari tanpa kekalahan, bahkan dapat mengalahkan dua tiga lawan sekaligus. Dalam sastra, seorang tokoh dapat hidup berpoya-poya setiap hari. Tidur di hotel mewah, naik kendaraan mewah, makan di restoran mahal tapi tidak dikisahkan dari mana dia dapat uang. Ini sesuatu yang tidak logis dalam kehidupan kita sehari-hari. Di dalam karya sastra, seolah tidak berlaku hukum logika, “untuk dapat uang orang mesti bekerja”.
Logika dalam sastra adalah logika sastra yang khas dan unik. Ini yang perlu kita pahami. Logika sastra tidak bisa disamakan dengan logika hidup yang sebenarnya. Dalam puisi, misalnya. Seorang penyair menulis kalimat “Aku berjalan melewati bintang”. Pantaskah kita bertanya, “Memang Anda bisa berjelan-jalan ke langit?”. “Pesawat apa yang Anda kendarai?”. Ini pertanyaan yang lucu. Tidak sepantasnya kita bertanya seperti itu. Dalam sastra, ungkapan seperti itu dianggap lumrah saja. Tak akan ada yang bisa membantah. Jangan menanyakan benar atau salah! Pembaca sastra akan menerimanya sebagai sebuah keindahan. Ingat saja, gaya bahasa “melebih-lebihkan” atau “mengurang-ngurangkan”.
Jadi, fakta di dalam sastra bukan fakta yang benar-benar dapat dipercaya melainkan fiksi. Akan tetapi, kita menemukan bahwa peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam karya sastra terasa hidup dan nyata. Inilah ciri sastra berikutnya. Fakta yang sebenarnya hanya ada dalam angan-angan pengarangnya akan direka sedemikian rupa agar tampak seperti nyata. Apa yang dikhayalkan pengarangnya itu dibuat dan ditampilkan dengan tujuan agar pembaca atau penonton merasakannya sebagai peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Banyak pembaca dan penonton yang merasa bahwa kisahnya itu mirip dengan kisah hidup yang dialaminya. Hal ini semata-mata merupakan bukti kelihaian seorang sastrawan. 
Sastra juga bukan media untuk komunikasi sehari-hari. Setiap orang yang menghasilkan sastra memiliki tujuan untuk menyampaikan gagasan, pendapat, permintaan, ajakan, bujukan, permohonan atau hal lainnya. Akan tetapi terdapat perbedaan yang sangat mendasar di antara bersastra dengan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berkomunikasi biasa bahasa dipergunakan untuk mencapai tujuan-tujuan praktis. Misalnya, menyuruh orang membelikan makanan, meminta orang berhenti ngobrol, menawar harga barang, mengajak orang pergi ke mesjid, melarang anak bermain game, dan sebagainya. Untuk mencapai tujuan itu, dalam komunikasi sehari-hari kita berusaha agar isi pembicaraan kita dipahami oleh lawan bicara.
Sastra dipilih orang sebagai media untuk menyampaikan sesuatu yang tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu saat ini dan di sini. Apabila kita meminta seseorang untuk menutup pintu, tidak wajar kalau memilih komunikasi dalam bentuk puisi, cerpen, atau novel.
Komunikasi dalam sastra bukanlah komunikasi yang efektif, bukan pula komunikasi yang praktis dan tepat sasaran. Dalam sastra tidak berlaku moto, “singkat, padat, dan mudah dipahami”. Oleh karena itu, isi sastra sering tidak terpahami. Sering ditafsirkan salah karena memang penulisnya sendiri ingin menyembunyikan maksud, makna, pesan, atau amanatnya. Dalam komunikasi biasa, pembicara akan mencari bentuk yang paling mudah dipahami dan tidak menimbulkan salah tafsir. Pembicaraannya harus jelas dan lugas. Dalam sastra, kejelasan dan kelugasan ini tidak dianggap penting. Sastrawan hanya ingin mengekspresikan keindahan yang merupakan pengalaman batinnya.
Sastra dibuat tidak selalu dibuat untuk dipahami tetapi untuk dinikmati. Dengan demikian, dalam komunikasi sehari-hari kita berusaha agar pembaca atau lawan bicara kita memahami isi pembicaraan kita sedangkan dengan sastra penulis berharap agar pembacanya dapat merasakan keindahannya.
Ada kalanya, orang memerlukan waktu berkali-kali membaca sebuah karya, khususnya puisi untuk memahami apa isinya. Bahkan, ada karya yang sama sekali tidak dapat dipahami isinya. Hal ini dipandang sesuatu yang lazim dalam sastra. Ketidakterpahaman maksud dan isi pesannya tidak akan dianggap sebagai sebuah kegagalan dalam bersastra. Coba Anda bayangkan apabila itu dialami pembaca atau pendengar dalam komunikasi sehari-hari! Pasti itu akan dianggap komunikasi yang gagal karena keduanya saling tidak memahami maksud masing-masing. Lebih dari itu, itu akan dianggap sebagai percakapan yang gagal, tidak saling memahami.

Wallahu a’lam.
@salam untuk mahasiswa Krtitik Sastra S-2 UMP 2019 dari Asep Nurjamin di Bumi Guntur Melati

SALAH TULIS

Hermawan Aksan wartawan Tribun Jabar KITA biasa menyebutnya typo, dari istilah typographical error. Maknanya, kesalahan ketik atau salah ket...