Monday, October 5, 2020

MEMBACA DAN EMPAT KETERAMPILAN BERBAHASA


Dr. Asep Nurjamin

Sudah jadi kodrat manusia untuk senantiasa berkomunikasi dengan orang yang ada di sekitarnya. Untuk berkomunikasi itu diperlukan alat komunikasi yang sama-sama dipahami. Alat komunikasi inilah yang disebut “bahasa”.

Kemampuan manusia dalam berkomunikasi itu pun terus berkembang seiring dengan semakin banyaknya pengalaman dan kebutuhan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi yang pada awalnya hanya sebatas komunikasi lisan telah bertambah dengan kemampuan berkomunikasi secara tertulis.

Dalam istilah “berkomunikasi” itu sendiri tergambar ada pihak yang terlibat, yaitu pihak yang memberitahu dan pihak yang diberi tahu. Jika dalam komunikasi lisan, “pihak yang memberi tahu itu” disebut “pembicara” sedangkan yang diberitahu disebut “penyimak”. Istilah “pembicara” berarti “orang yang berbicara” sedangkan istilah “penyimak” berarti “orang yang menyimak”. Dalam komunikasi tulis, “orang yang memberi tahu” itu disebut “penulis” sedangkan “orang diberi tahu” disebut “pembaca”. “Penulis” berarti “orang yang menulis” sedangkan “pembaca” berarti “orang yang membaca”.

Kemampuan manusia dalam berkomunikasi itu dapat dibedakan atas empat keterampilan, yaitu: (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, serta (4) keterampilan menulis. Berdasarkan hakikatnya, keempat keterampilan ini dapat dibedakan atas keterampilan lisan dan keterampilan tulis. Keterampilan menyimak dan keterampilan berbicara termasuk ke dalam kelompok keteramplan lisan. Pada pihak lain,  keterampilan membaca dan keterampilan menulis termasuk ke dalam kelompok keterampilan tulis.

Keempat keterampilan berbahasa tersebut di atas dapat pula dibedakan pula atas keterampilan aktif produktif dan keterampilan aktif reseptif. Keterampilan berbicara dan keterampilan menulis termasuk kelompok keterampilan aktif produktif sedangkan keterampilan menyimak dan membaca termasuk kelompok keterampilan yang bersifat aktif reseptif.

Keterampilan berbicara disebut keterampilan yang bersifat aktif produktif karena kegiatan berbicara selalu menghasilkan suatu produk berbicara yaitu “ujaran”.  Produk kegiatan berbicara ini pun sering disebut dengan istilah “tuturan atau pembicaraan. Jadi ketiga istilah dianggap bersinonim. Keterampilan menulis disebut keterampilan yang bersifat aktif produktif karena menghasilkan sesuatu produk yaitu tulisan” atau “karangan”.

Pada pihak lain, keterampilan menyimak termasuk keterampilan yang bersifat aktif reseptif karena di dalam keterampilan ini penyimak bersifat “memahami” tuturan orang lain. Demikian pula halnya dengan keterampilan membaca yang hanya bersifat memahami tulisan.

Dalam keterampilan lisan, berbicara dan menyimak merupakan keterampilan yang saling melengkapi. Pada saat dua orang “mengobrol” pergantian peran antara pembicara dan penyimak berlangsung secara alamiah dan berlangsung tanpa disadari. Orang kesatu mengajukan pertanyaan, dalam hal ini orang kesatu berperan sebagai pembicara sementara orang kedua berperan sebagai penyimak. Selanjutnya, pada saat orang kedua menjawab, orang pertama menjadi penyimak sedangkan orang kedua berperan sebagai pembicara. Pergantian peran di antara pembicara akan terus berlangsung secara alamiah dan sering tanpa disadari.

Kedua keterampilan tersebut, yaitu berbicara dan menyimak cenderung dilakukan dalam komunikasi langsung. Pembicara dan penyimak berhadapan secara tatap muka dan berada pada tempat yang sama dengan jarak yang relatif dekat sehingga memungkinkan di antara keduanya untuk saling mendengarkan pembicaraannya. Lebih dari itu, dengan kemajuan teknologi komunikasi, pada saat ini pembicara dan penyimak dapat pula berkomunikasi secara langsung walaupun berada di tempat yang berbeda dengan jarak yang relatif jauh. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan alat komunikasi seperti telefon genggam, ‘hand phone’, skype, teleconfrence, dan sebagainya.

Dua keterampilan berikutnya, yaitu keterampilan menulis dan keterampilan membaca. Keduanya, dapat digolongkan ke dalam keterampilan dalam berkomunikasi secara tidak langsung. Dua orang yang berada di tempat yang berbeda dapat berkomunikasi secara tidak langsung. Dalam komunikasi ini, pembicara berusaha mengubah pesan yang biasanya disampaikan secara lisan ke dalam bentuk lambang-lambang tertulis. Lambang-lambang tertulis itu mencakup huruf-huruf yang dirangkai menjadi sukukata, kata, dan kalimat sehingga menjelma menjadi sebuah “surat”. Pada masa kini, bentuk surat yang menggunakan kertas dan pulpen telah berkembang menjadi surat yang memanfaatkan perangkat elektronik seperti “e-mail” dan “pesan pendek” pada telefon genggam yang lebih dikenal dengan nama “layanan pesan pendek”, ‘short message service’ yang disingkat jadi SMS.

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa surat itu merupakan tulisan yang melambangkan pesan lisan yang hendak diutarakan pembicara kepada pendengarnya. Akan tetapi, karena pesan yang hendak disampaikan itu sudah berubah bentuk menjadi tulisan maka peran “si pengirim pesan” itu sudah berubah menjadi “penulis surat”, bukan lagi sebagai pembicara. Penerima surat pun tidak dapat disebut “penyimak” karena keterampilan yang dipergunakannya untuk memahami pesan tertulis bukanlah keterampilan “menyimak” melainkan keterampilan “membaca”.

Di samping memiliki kelemahan. Pesan yang disampaikan secara tertulis itu ternyata memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan pesan yang disampaikan secara lisan. Pesan tertulis itu akan terawetkan. Sebaliknya, pesan yang disampaikan secara lisan akan segera hilang begitu pembicara selesai menyampaikan maksudnya. Dengan demikian, pesan tertulis itu masih dapat dibaca oleh orang yang terpisah jarak dan waktu. Ini berarti bahwa tulisan itu masih akan dapat dibaca oleh orang yang jaraknya berada jauh dari tempat penulisnya. Di samping itu, pesan tertulis itu masih dapat dibaca walaupun penulisnya sudah meninggal dunia, penulis dan pembaca terpaut jarak waktu yang cukup lama. Sebagai contoh, hadist-hadist Rosulullah shalallahu alaihi wassalam yang telah dibukukan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim masih dapat dibaca hingga saat ini walaupun kedua ulama besar itu telah lama wafat.

Dari paragraf di atas dapat diketahui bahwa “keterampilan membaca” adalah keterampilan yang dilakukan untuk mencari informari dari bacaan dan atau memahami pesan tertulis. Pada saat membaca, pembaca tampak diam tetapi sebenarnya pikirannya aktif bekerja. Pembaca berusaha mamahami maksud dari setiap kalimat yang terdapat dalam tulisan. Selanjutnya, pembaca menghubungkan kalimat-kalimat itu dengan pengetahuannya. Misalnya, pengetahuan tentang kebiasaan-kebiasaan. Pembaca berusaha memahami semua maksud dari kalimat-kalimat yang tertulis, baik maksud yang tersurat maupun maksud yang tersirat. Untuk itu, pembaca harus memusatkan perhatian, berkonsentrasi  terhadap bacaannya. Jadi, selama proses pembacaan berlangsung, pikiran pembaca itu aktif, bekerja untuk memahami pesan-pesan tertulis. Oleh karena itulah, keterampilan membaca disebut sebagai keterampilan aktif reseptif.

 

@salam dari Asep Nurjamin Guntur Melati, 6 September 2020

 

 

MEMBACA DAN EMPAT KETERAMPILAN BERBAHASA

Dr. Asep Nurjamin

 

Sudah jadi kodrat manusia untuk senantiasa berkomunikasi dengan orang yang ada di sekitarnya. Untuk berkomunikasi itu diperlukan alat komunikasi yang sama-sama dipahami. Alat komunikasi inilah yang disebut “bahasa”.

Kemampuan manusia dalam berkomunikasi itu pun terus berkembang seiring dengan semakin banyaknya pengalaman dan kebutuhan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi yang pada awalnya hanya sebatas komunikasi lisan telah bertambah dengan kemampuan berkomunikasi secara tertulis.

Dalam istilah “berkomunikasi” itu sendiri tergambar ada pihak yang terlibat, yaitu pihak yang memberitahu dan pihak yang diberi tahu. Jika dalam komunikasi lisan, “pihak yang memberi tahu itu” disebut “pembicara” sedangkan yang diberitahu disebut “penyimak”. Istilah “pembicara” berarti “orang yang berbicara” sedangkan istilah “penyimak” berarti “orang yang menyimak”. Dalam komunikasi tulis, “orang yang memberi tahu” itu disebut “penulis” sedangkan “orang diberi tahu” disebut “pembaca”. “Penulis” berarti “orang yang menulis” sedangkan “pembaca” berarti “orang yang membaca”.

Kemampuan manusia dalam berkomunikasi itu dapat dibedakan atas empat keterampilan, yaitu: (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, serta (4) keterampilan menulis. Berdasarkan hakikatnya, keempat keterampilan ini dapat dibedakan atas keterampilan lisan dan keterampilan tulis. Keterampilan menyimak dan keterampilan berbicara termasuk ke dalam kelompok keteramplan lisan. Pada pihak lain,  keterampilan membaca dan keterampilan menulis termasuk ke dalam kelompok keterampilan tulis.

Keempat keterampilan berbahasa tersebut di atas dapat pula dibedakan pula atas keterampilan aktif produktif dan keterampilan aktif reseptif. Keterampilan berbicara dan keterampilan menulis termasuk kelompok keterampilan aktif produktif sedangkan keterampilan menyimak dan membaca termasuk kelompok keterampilan yang bersifat aktif reseptif.

Keterampilan berbicara disebut keterampilan yang bersifat aktif produktif karena kegiatan berbicara selalu menghasilkan suatu produk berbicara yaitu “ujaran”.  Produk kegiatan berbicara ini pun sering disebut dengan istilah “tuturan atau pembicaraan. Jadi ketiga istilah dianggap bersinonim. Keterampilan menulis disebut keterampilan yang bersifat aktif produktif karena menghasilkan sesuatu produk yaitu tulisan” atau “karangan”.

Pada pihak lain, keterampilan menyimak termasuk keterampilan yang bersifat aktif reseptif karena di dalam keterampilan ini penyimak bersifat “memahami” tuturan orang lain. Demikian pula halnya dengan keterampilan membaca yang hanya bersifat memahami tulisan.

Dalam keterampilan lisan, berbicara dan menyimak merupakan keterampilan yang saling melengkapi. Pada saat dua orang “mengobrol” pergantian peran antara pembicara dan penyimak berlangsung secara alamiah dan berlangsung tanpa disadari. Orang kesatu mengajukan pertanyaan, dalam hal ini orang kesatu berperan sebagai pembicara sementara orang kedua berperan sebagai penyimak. Selanjutnya, pada saat orang kedua menjawab, orang pertama menjadi penyimak sedangkan orang kedua berperan sebagai pembicara. Pergantian peran di antara pembicara akan terus berlangsung secara alamiah dan sering tanpa disadari.

Kedua keterampilan tersebut, yaitu berbicara dan menyimak cenderung dilakukan dalam komunikasi langsung. Pembicara dan penyimak berhadapan secara tatap muka dan berada pada tempat yang sama dengan jarak yang relatif dekat sehingga memungkinkan di antara keduanya untuk saling mendengarkan pembicaraannya. Lebih dari itu, dengan kemajuan teknologi komunikasi, pada saat ini pembicara dan penyimak dapat pula berkomunikasi secara langsung walaupun berada di tempat yang berbeda dengan jarak yang relatif jauh. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan alat komunikasi seperti telefon genggam, ‘hand phone’, skype, teleconfrence, dan sebagainya.

Dua keterampilan berikutnya, yaitu keterampilan menulis dan keterampilan membaca. Keduanya, dapat digolongkan ke dalam keterampilan dalam berkomunikasi secara tidak langsung. Dua orang yang berada di tempat yang berbeda dapat berkomunikasi secara tidak langsung. Dalam komunikasi ini, pembicara berusaha mengubah pesan yang biasanya disampaikan secara lisan ke dalam bentuk lambang-lambang tertulis. Lambang-lambang tertulis itu mencakup huruf-huruf yang dirangkai menjadi sukukata, kata, dan kalimat sehingga menjelma menjadi sebuah “surat”. Pada masa kini, bentuk surat yang menggunakan kertas dan pulpen telah berkembang menjadi surat yang memanfaatkan perangkat elektronik seperti “e-mail” dan “pesan pendek” pada telefon genggam yang lebih dikenal dengan nama “layanan pesan pendek”, ‘short message service’ yang disingkat jadi SMS.

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa surat itu merupakan tulisan yang melambangkan pesan lisan yang hendak diutarakan pembicara kepada pendengarnya. Akan tetapi, karena pesan yang hendak disampaikan itu sudah berubah bentuk menjadi tulisan maka peran “si pengirim pesan” itu sudah berubah menjadi “penulis surat”, bukan lagi sebagai pembicara. Penerima surat pun tidak dapat disebut “penyimak” karena keterampilan yang dipergunakannya untuk memahami pesan tertulis bukanlah keterampilan “menyimak” melainkan keterampilan “membaca”.

Di samping memiliki kelemahan. Pesan yang disampaikan secara tertulis itu ternyata memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan pesan yang disampaikan secara lisan. Pesan tertulis itu akan terawetkan. Sebaliknya, pesan yang disampaikan secara lisan akan segera hilang begitu pembicara selesai menyampaikan maksudnya. Dengan demikian, pesan tertulis itu masih dapat dibaca oleh orang yang terpisah jarak dan waktu. Ini berarti bahwa tulisan itu masih akan dapat dibaca oleh orang yang jaraknya berada jauh dari tempat penulisnya. Di samping itu, pesan tertulis itu masih dapat dibaca walaupun penulisnya sudah meninggal dunia, penulis dan pembaca terpaut jarak waktu yang cukup lama. Sebagai contoh, hadist-hadist Rosulullah shalallahu alaihi wassalam yang telah dibukukan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim masih dapat dibaca hingga saat ini walaupun kedua ulama besar itu telah lama wafat.

Dari paragraf di atas dapat diketahui bahwa “keterampilan membaca” adalah keterampilan yang dilakukan untuk mencari informari dari bacaan dan atau memahami pesan tertulis. Pada saat membaca, pembaca tampak diam tetapi sebenarnya pikirannya aktif bekerja. Pembaca berusaha mamahami maksud dari setiap kalimat yang terdapat dalam tulisan. Selanjutnya, pembaca menghubungkan kalimat-kalimat itu dengan pengetahuannya. Misalnya, pengetahuan tentang kebiasaan-kebiasaan. Pembaca berusaha memahami semua maksud dari kalimat-kalimat yang tertulis, baik maksud yang tersurat maupun maksud yang tersirat. Untuk itu, pembaca harus memusatkan perhatian, berkonsentrasi  terhadap bacaannya. Jadi, selama proses pembacaan berlangsung, pikiran pembaca itu aktif, bekerja untuk memahami pesan-pesan tertulis. Oleh karena itulah, keterampilan membaca disebut sebagai keterampilan aktif reseptif.

 

@salam dari Asep Nurjamin Guntur Melati, 6 September 2020

 

 

No comments:

SALAH TULIS

Hermawan Aksan wartawan Tribun Jabar KITA biasa menyebutnya typo, dari istilah typographical error. Maknanya, kesalahan ketik atau salah ket...